Pangeran Kecil — dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia termasuk cabang Melayik dalam rumpun Austronesia, sebuah rumpun bahasa yang jangkauannya nyaris tak tertandingi di muka bumi, membentang dalam satu busur tak terputus dari Madagaskar di lepas pantai Afrika hingga Pulau Paskah jauh di tengah Pasifik. Bahasa ini merupakan keturunan langsung bahasa Melayu, yang selama lebih dari seribu tahun menjadi lingua franca perdagangan maritim Asia Tenggara, dibawa oleh para saudagar, pelaut, dan cendekiawan menyusuri Selat Malaka jauh sebelum gagasan tentang bangsa Indonesia lahir. Yang membuatnya begitu menarik justru watak warisannya sebagai bahasa perjumpaan dan perniagaan, bukan bahasa milik satu tanah leluhur etnis. Sejak bentuk tertulisnya yang paling awal, bahasa ini sudah menjadi bahasa jembatan, dituturkan dengan fasih oleh orang-orang yang bahasa ibunya berlainan satu sama lain.

Riwayat tertulisnya jauh lebih panjang daripada yang disadari banyak orang, merentang sampai ke prasasti-prasasti Melayu Kuno dari kemaharajaan maritim Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit dari tahun 683 Masehi termasuk teks Melayu tertua yang masih bertahan di mana pun. Pada abad-abad berikutnya, bahasa Melayu menyerap gelombang demi gelombang pengaruh dari luar: mula-mula Sanskerta selama masa panjang Hindu-Buddha di Jawa dan Sumatra, kemudian Arab seiring menyebarnya Islam di Nusantara, lalu Portugis dan Belanda ketika kekuatan dagang Eropa menancapkan kakinya. Titik balik modern yang menentukan terjadi pada 1928, ketika para pemuda pergerakan berkumpul di Batavia dan mengikrarkan Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, dan yang terpenting, satu bahasa. Mereka memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda milik penjajah dan bukan pula bahasa Jawa yang dituturkan kelompok etnis terbesar di Nusantara, sebagai bahasa bersama yang kemudian menjadi bahasa Indonesia saat kemerdekaan pada 1945.

Pilihan itu sendiri menjadi sumber salah satu ciri paling mencolok bahasa ini, yaitu egalitarianismenya yang disengaja, bahkan nyaris direkayasa. Berbeda dengan bahasa Jawa yang memiliki sistem tingkat tutur rumit yang menyandikan kedudukan sosial ke dalam hampir setiap kalimat, bahasa Indonesia dipilih justru karena tidak dimiliki oleh satu kelompok etnis mana pun dan tidak membawa beban hierarki semacam itu. Karena itu ia menjadi ruang temu yang sungguh netral bagi bangsa dengan lebih dari tujuh ratus bahasa yang masih hidup. Secara tata bahasa, bahasa Indonesia terasa hemat dan lugas. Ia tidak mengenal kala maupun jenis kelamin gramatikal, dan menyampaikan makna melalui konteks, kata keterangan waktu, serta sistem imbuhan yang khas.

Hubungan bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa di sekitarnya masih sangat hidup hingga kini. Kerabat terdekatnya adalah bahasa Melayu Malaysia (Bahasa Malaysia), saudara kembarnya di seberang Selat, yang berpisah jalan hanya secara administratif sejak masa kolonial membagi keduanya ke dalam lingkup Belanda dan Inggris. Di sisi lain, bahasa Indonesia terus menimba tenaga dari ratusan bahasa daerah yang masih dituturkan di seluruh Nusantara, seperti Jawa, Sunda, Minangkabau, dan banyak lagi, yang memperkaya kosakata dan warna percakapannya sekaligus menyatukan para penuturnya. Dalam arti ini, bahasa Indonesia tetaplah seperti hakikatnya sejak semula: bukan bahasa leluhur satu suku bangsa, melainkan benang yang hidup dan terus berkembang, yang memungkinkan sebuah bangsa kepulauan yang luar biasa beragam berbicara, secara harfiah, dengan satu suara.

Edisi Pertama

Pangeran Kecil, 1979

Terjemahan Le Petit Prince pertama dalam bahasa Indonesia adalah Pangeran Kecil, terbitan Pustaka Jaya tahun 1979. Proses penerjemahannya bermula ketika penyair Wing Kardjo Wangsaatmadja meminta mahasiswanya di Universitas Padjadjaran mengerjakan proyek penerjemahan Le Petit Prince ke dalam bahasa Indonesia.

Kotak biru pada sampulnya bertuliskan “Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tidak Diperdagangkan. Inpres No 6/1980.” Buku ini cukup sulit ditemukan, bahkan di Indonesia sendiri. Saya menemukan eksemplar ini di pasar buku loak Palasari, Bandung. Saya menganggap buku ini terlalu berharga, sehingga hanya membacanya sekali. Setelah itu saya lebih sering membaca Le Petit Prince dalam edisi bahasa Inggris dan Prancis.


Edisi Reguler

Jendela 2003

Buku ini diterbitkan oleh penerbit Jendela di Yogyakarta pada 2003. Namun setelah mendapat kabar bahwa Gramedia, penerbit yang jauh lebih besar, berencana menerbitkan terjemahan LPP yang lain, penerbit kecil ini memilih menghentikan pencetakan dan distribusinya. Setidaknya begitulah yang pernah saya baca beberapa tahun lalu.

Gramedia 2003

The Little Prince / Pangeran Kecil, 2003

Gramedia menerbitkan dua terjemahan: satu dari edisi bahasa Inggris (The Little Prince / Pangeran Kecil) dan satu lagi dari edisi bahasa Prancis (Le Petit Prince / Pangeran Cilik). Seperti banyak buku terjemahan Gramedia lainnya, judul buku dipertahankan dalam bahasa aslinya, dengan terjemahan judul dalam bahasa Indonesia sebagai anak judul. Kedua terjemahan ini tergolong sangat sukses dalam penjualan dan distribusi. Sayangnya, setelah 2011 distribusinya dihentikan, sampai kemudian sebuah film berhasil membangkitkan kembali minat publik terhadap LPP.

Gramedia 2007

Le Petit Prince / Pangeran Kecil, 2007

Kakatua 2021

Buku ini diterbitkan oleh Kakatua di Yogyakarta sebagai bagian dari seri sastra klasik penerbit tersebut. Penerjemahnya adalah Andreas Nova dan Nurul Hanafi.

Bosca Baca 2025

Edisi Khusus Kolektor

Edisi Koen

Si Pangeran Kecil, 2013. Karena melihat sulitnya rekan-rekan penggemar LPP di luar negeri mendapatkan terjemahan bahasa Indonesia, saya mulai menerjemahkan buku ini sendiri. Terjemahan ini ditulis untuk memperingati 70 tahun terbitnya Le Petit Prince. Saya menulisnya sambil bepergian ke sejumlah kota di Indonesia, antara lain Makassar, Semarang, Palembang, Denpasar, Bandung, dan Jakarta. Sumber terjemahannya adalah teks berbahasa Prancis dari situs Project Gutenberg Australia.

Saya sempat menemukan penerbit lokal yang bersedia menerbitkan buku ini, tetapi prosesnya berjalan sangat lambat. Akhirnya saya memutuskan menerbitkannya sendiri melalui Lulu, sehingga para pencinta LPP dapat membelinya langsung dari Lulu nyaris tanpa kendala.

Edisi Ulang Tahun ke-80

Pada 2018, buku ini diterbitkan ulang dengan ilustrasi yang diseragamkan di seluruh isi buku (posisi gambar dan sebagainya).

Edisi sampul lunak: [TAUTAN]
Edisi sampul keras: [TAUTAN]

Edisi Novel Grafis

Wow: The Little Prince / Pangeran Kecil adalah novel grafis dwibahasa yang diterjemahkan dari edisi Korea, dengan ilustrasi karya Lee Chan-wong.