Liurai-Oan Ki’ik, dalam bahasa Tetun.

Bahasa Tetun, yang juga dieja Tetum, adalah bahasa Austronesia yang terutama dituturkan di Timor Leste. Bahasa ini adalah salah satu dari dua bahasa resmi Timor Leste, bersama bahasa Portugis, dan berfungsi sebagai lingua franca di antara berbagai kelompok etnis di negara itu.

Bahasa Tetun memiliki beberapa dialek. Dialek utamanya adalah Tetun Prasa, yang dituturkan di dalam dan di sekitar Dili (ibu kota Timor Leste), dan Tetun Terik, yang dituturkan di daerah pedesaan Timor Leste dan Timor Barat. Tetun Prasa sangat dipengaruhi oleh bahasa Portugis dan bahasa Indonesia, dan menyerap banyak kata pinjaman dari kedua bahasa tersebut.

Inventaris fonetik bahasa Tetun relatif sederhana. Bahasa ini memakai sistem lima vokal yang serupa dengan banyak bahasa Austronesia lainnya. Tata bahasa Tetun bercirikan urutan kata subjek-verba-objek (SVO). Imbuhannya sedikit, dan kala, aspek, serta modus terutama dinyatakan melalui partikel dan kata keterangan waktu yang berdiri sendiri, bukan melalui infleksi. Berbeda dengan banyak bahasa Eropa, bahasa Tetun tidak mengenal jenis kelamin gramatikal.

Bahasa Tetun menghadapi tantangan dalam pengembangan dan pembakuannya sebagai bahasa nasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memperluas penggunaannya dalam pendidikan formal dan keberaksaraan, sambil menyeimbangkan pengaruh bahasa Portugis dan bahasa Indonesia. Prakarsa pengembangan bahasa, termasuk penyusunan kamus, buku tata bahasa, dan bahan ajar, bertujuan memperkuat peran bahasa Tetun dalam masyarakat.

Timor Leste berbatasan darat langsung dengan Indonesia. Namun buku ini sangat sulit didapat dari Indonesia, bahkan secara daring. Akhirnya Jean-Marc Probst mengirimkan buku ini dari Jenewa. Gratis. Terima kasih, Jean-Marc.