
Sang Pangeran Ketjil — dalam gaya bahasa Indonesia lama, ditulis dengan ejaan lama Van Ophuijsen yang berlaku di Indonesia sebelum kemerdekaan.
Ejaan Van Ophuijsen, yang namanya diambil dari Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang ahli bahasa sekaligus pegawai pemerintah kolonial Belanda, merupakan upaya resmi pertama untuk membakukan sistem penulisan bahasa Melayu dalam aksara Latin pada masa Hindia Belanda. Diperkenalkan pada 1901 melalui Kitab Logat Melajoe, sistem ejaan ini meletakkan dasar bagi apa yang kelak berkembang menjadi bahasa Indonesia modern. Sebelumnya, bahasa Melayu, yang sudah berfungsi sebagai lingua franca kawasan, ditulis dalam aksara Jawi (aksara Arab yang disesuaikan) atau dalam berbagai ejaan Latin yang tidak seragam. Sistem Van Ophuijsen, yang disusun dengan bantuan dua pembantu pribumi, Engku Nawawi gelar Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim, menandai momen penting dalam kebijakan bahasa kolonial, yakni perpaduan antara ketelitian filologi Barat dan fonologi pribumi. Ejaan ini adalah alat kolonial untuk mengendalikan dan mengajar, tetapi sekaligus menjadi pintu masuk bagi kaum elite pribumi menuju keberaksaraan dan benih bagi kesadaran kebangsaan di kemudian hari.
Ejaan ini bercirikan logika fonetik campuran Belanda dan Melayu. Misalnya, ejaan ini memakai “oe” untuk bunyi /u/ (seperti goeroe untuk guru), “tj” untuk /c/ (seperti ketjil untuk kecil), dan “dj” untuk /j/ (seperti djalan untuk jalan). Hal ini mencerminkan kaidah ejaan Belanda, yang sering membingungkan atau terasa asing bagi pelajar pribumi. Meski demikian, ejaan ini menjadi baku untuk sekolah, dokumen hukum, dan terbitan di seluruh Nusantara, sehingga membentuk cara bahasa Melayu, dan kemudian bahasa Indonesia, diajarkan dan diresapi. Yang terpenting, ejaan ini membantu menjembatani bentuk lisan dan tulisan bahasa Melayu, mengangkatnya dari bahasa pasar menjadi bahasa pemerintahan dan akhirnya bahasa wacana intelektual.
Sistem Van Ophuijsen mencerminkan relasi kuasa pada zamannya. Ia dipaksakan oleh penguasa kolonial, tetapi secara paradoks justru memungkinkan kaum elite setempat menguasai perangkat modernitas. Melalui sekolah, pendidikan misi, dan pers pergerakan, ejaan ini menyemai lapisan masyarakat yang melek huruf dan berbahasa Melayu, yang kemudian merumuskan cita-cita kemerdekaan dan persatuan. Dari sisi kebudayaan, ejaan ini membantu menyeragamkan tulisan dalam karya cetak, sehingga memungkinkan lahirnya prosa dan puisi Indonesia modern. Pengarang seperti Merari Siregar dan Abdul Muis menerbitkan karya-karya awal mereka dengan ejaan ini, menandai kelahiran modernisme sastra Indonesia di bawah bayang-bayang kolonial.
Ejaan Van Ophuijsen akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik pada 1947, lalu disempurnakan dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972. Perubahan ini menghapus sisa-sisa ejaan Belanda dan menggantinya dengan bentuk yang lebih fonetis dan mudah diakses, misalnya “oe” menjadi “u”, “tj” menjadi “c”, dan “dj” menjadi “j”. Peralihan ini bukan sekadar urusan teknis. Ia adalah tindakan dekolonial dan kebangsaan, ketika Republik berupaya membangun identitas modern yang terlepas dari warisan kolonial. Namun warisan Van Ophuijsen tetap bertahan dalam bahan arsip, karya sastra lama, dan ingatan bersama tentang perjalanan bahasa Indonesia.
Dibandingkan dengan bahasa Indonesia modern, ejaan Van Ophuijsen mungkin terlihat kuno, bahkan merepotkan, tetapi ejaan ini adalah perancah penting dalam pembangunan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Ia mewakili saat ketika kehendak kolonial dan aspirasi pribumi bertemu di ranah bahasa, sebuah ranah kendali, perlawanan, dan akhirnya perubahan. Bagi banyak orang Indonesia, terutama mereka yang menekuni kajian sastra, bahasa, atau sejarah, ejaan Van Ophuijsen menjadi pengingat bahwa bahasa berkembang bukan hanya melalui logika dan bunyi, tetapi juga melalui kekuasaan, politik, dan hasrat yang tak pernah padam untuk mengungkapkan jati diri di dunia yang terus berubah.
