Нучӣкэ Принси / Nutshiike Prinsi — dalam bahasa Uilta.

Bahasa Uilta (ульта, kemungkinan dari ulaa, rusa kutub peliharaan, hewan yang menjadi pusat identitas bangsa ini) adalah bahasa Tungusik Selatan, yang paling dekat kekerabatannya dengan bahasa Nanai dan Ulch di daratan seberangnya, meskipun selama lebih dari seabad orang luar terutama mengenalnya sebagai bahasa Orok. Kini bahasa ini hanya bertahan di Pulau Sakhalin, terbagi atas dialek utara, Doronneni, di sekitar desa Val di tepi Sungai Tym, dan dialek selatan, Poronaysk. Menurut hitungan terbaru, hanya delapan hingga sepuluh orang yang masih fasih menuturkannya, dari sekitar tiga hingga empat ratus orang yang mengaku berketurunan Uilta, sehingga bahasa ini termasuk bahasa yang paling kritis terancam punah di seluruh dunia.

Secara tradisional, orang Uilta menggembalakan rusa kutub di hutan-hutan Sakhalin, menangkap ikan salem setiap musim panas, dan memuliakan beruang sebagai roh yang paling suci. Selama berabad-abad mereka berdagang dengan tetangga sepulau mereka, orang Ainu dan Nivkh, dan melalui mereka dengan pos-pos Manchu dan Tionghoa di seberang Selat Tartar. Jalinan kontak kuno itu terputus ketika Perjanjian Sankt-Peterburg 1875 menyerahkan seluruh Sakhalin kepada Rusia, lalu makin terganggu setelah 1905, ketika garis lintang lima puluh membelah pulau itu dan bagian selatannya jatuh ke tangan Jepang. Pada 1926 penguasa Jepang memaksa keluarga-keluarga Uilta dan Nivkh berkumpul di desa Otasu yang sengaja dibangun untuk itu, dan menyekolahkan anak-anak mereka dalam bahasa Jepang dan etika Shinto, bukan dalam bahasa dan adat mereka sendiri, sehingga satu generasi penuh diam-diam merasa malu menuturkan bahasa Uilta. Meski begitu, keluarga-keluarga itu tidak diberi kewarganegaraan Jepang hingga 1945, padahal pada tahun-tahun itu sekitar tiga puluh pemuda Uilta sudah dikerahkan sebagai pengintai perbatasan rahasia melawan Uni Soviet.

Secara gramatikal, bahasa Uilta layak dicermati: delapan vokal dengan kontras panjang dan empat belas konsonan membangun kata-kata di bawah harmoni vokal yang ketat, yang menjaga agar golongan vokal tertutup, netral, dan terbuka tidak pernah bercampur dalam satu kata, sementara setiap suku kata harus sekurang-kurangnya dua mora, sehingga suku kata tunggal yang pendek dan tumpul, yang umum di bahasa-bahasa Tungusik lain, tidak dimungkinkan. Tanpa sistem tulisan yang tetap hingga buku pelajaran pertamanya terbit pada 2008, dan dengan penutur fasih yang masih hidup kini dapat dihitung dengan jari kedua tangan, bahasa Uilta menempati titik temu yang luar biasa sempit antara tiga dunia sekaligus: sepupu-sepupu Tungusiknya di daratan, Nanai dan Ulch, di seberang selat; bahasa-bahasa isolat yang sama sekali tidak berkerabat, Nivkh dan Ainu, yang berbagi pulau dengannya; serta bahasa negara Rusia dan Jepang, yang bersama-sama lebih menentukan daripada ciri gramatikal apa pun apakah bahasa ini akan bertahan.

Unduh berkas PDF-nya di sini: [TAUTAN]