
Te Pelenise Foliki — dalam bahasa Tuvalu.
Bahasa Tuvalu, yang oleh penuturnya disebut Te Gana Tūvalu, adalah bahasa nasional Tuvalu, negara kepulauan Polinesia yang terpencil dan terdiri atas sembilan atol rendah yang tersebar di Samudra Pasifik bagian tengah. Bahasa Tuvalu termasuk subkelompok Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia, berkerabat dekat dengan bahasa Tokelau, Samoa, dan Tonga, serta berbagi leluhur yang sama dengan bahasa-bahasa Polinesia Timur seperti Tahiti dan Hawaii. Meskipun tingkat saling memahaminya beragam, struktur tata bahasa dan kosakatanya memperlihatkan warisan bersama itu. Misalnya, kata untuk “laut” dalam bahasa Tuvalu adalah tai, sama seperti dalam banyak bahasa Polinesia, yang mencerminkan sentralnya laut dalam identitas budaya dan kebahasaan.
Dalam sejarahnya, bahasa Tuvalu berkembang sebagai bahasa lisan yang kaya, dipakai untuk mewariskan silsilah, nyanyian (fatele), mitos, dan pengetahuan bersama. Karena tidak memiliki sistem tulisan asli, bahasa ini baru dituliskan pertama kali pada abad ke-19 dengan aksara Latin, di bawah pengaruh misionaris Samoa dan kemudian kontak dengan bangsa Eropa. Mula-mula kaidah bahasa Samoa membentuk ejaan dan penggunaan bahasa Tuvalu, tetapi lambat laun bahasa ini mengembangkan tradisi tulisnya sendiri. Meskipun bahasa Inggris juga menjadi bahasa resmi karena masa lalu Tuvalu di bawah kekuasaan Inggris, bahasa Tuvalu tetap dominan dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan pemerintahan setempat, sehingga menjadi salah satu dari sedikit bahasa Pasifik yang dipakai secara nasional dengan begitu konsisten.
Secara budaya, bahasa ini tak terpisahkan dari gaya hidup orang Tuvalu yang sangat komunal. Mereka masih bergantung pada penangkapan ikan untuk kebutuhan sendiri, pembuatan perahu tradisional, dan sistem kerja bersama, yang sering diatur melalui keluarga besar (kaiga) dan kelompok masyarakat (kaupule). Bahasa ini mencerminkan cara pandang yang berakar pada kepekaan terhadap alam, timbal balik, dan penghormatan kepada orang tua, dengan kosakata yang sangat bernuansa untuk angin, pasang surut, dan hubungan kemasyarakatan. Dalam musik, terutama dalam pertunjukan fatele, yaitu tarian bercerita yang berirama, bahasa Tuvalu menjadi sarana utama bagi ungkapan puitis sekaligus perayaan bersama.
Meskipun hidup subur di negerinya sendiri, bahasa Tuvalu menghadapi tantangan di luar negeri, terutama di kalangan komunitas diaspora di Selandia Baru dan Australia, tempat bahasa Inggris sering mendominasi. Namun upaya melestarikan dan mempromosikan bahasa ini melalui pendidikan dwibahasa, perangkat digital, dan program budaya makin terlihat. Bahasa Tuvalu juga memainkan peran simbolis dalam wacana iklim dunia. Ketika kenaikan permukaan laut mengancam keberadaan pulau-pulau Tuvalu, bahasa ini menjadi penanda identitas, kedaulatan, dan ketahanan yang mengharukan. Ia menjadi wadah pengetahuan leluhur sekaligus suara dalam seruan internasional untuk keadilan iklim.
