
Žulu Prensina — dalam dialek Çxala bahasa Laz.
ლაზური ნენა (Lazuri Nena, “lidah Laz”) termasuk rumpun Kartvelia atau Kaukasus Selatan, tempat ia membentuk cabang Zan bersama saudara dekatnya, მარგალური ნინა (Margaluri Nina, Mingrelia). Perhitungan glotokronologi menempatkan pemisahan bahasa-bahasa Zan dari Kartvelia Bersama sejauh abad ke-8 Sebelum Masehi, sehingga bahasa Laz dan Georgia (ქართული ენა, Kartuli Ena) adalah dua saudara dari satu leluhur, bukan induk dan dialeknya, apa pun anggapan keliru yang beredar. Bahasa Laz dan Mingrelia sendiri tetap menjadi satu kontinum Zan selama satu setengah milenium berikutnya, dan baru berpisah sekitar abad ke-7 Masehi, ketika tekanan Arab terhadap Bizantium mendorong penduduk berbahasa Georgia dari Iberia ke barat, ke Imereti, Guria, dan Adjara, sehingga dunia penutur Zan terbelah dua. Belahan utara menjadi bahasa Mingrelia, yang menetap di sekitar Samegrelo di Georgia barat, sedangkan belahan selatan menjadi bahasa Laz, yang terbawa terus ke pesisir Laut Hitam di wilayah yang kini menjadi Turki timur laut. Hingga kini keduanya hanya sebagian saling dapat dipahami, dan penuturnya biasanya berpindah ke bahasa Turki atau Georgia untuk menjembatani jarak itu, warisan yang bersahaja dari sesuatu yang dulu satu bahasa.
Orang Laz menelusuri garis keturunannya hingga tanah purba კოლხეთი (Kolkheti, Kolkhis), yang termasyhur dengan kisah Bulu Domba Emas, dan hingga kerajaan Lazika pada masa Bizantium, yang penduduknya masuk ke dunia Kristen di bawah Yustinianus pada abad ke-6. Sejarah mereka selanjutnya sangat berbeda dari kerabat Georgia dan Mingrelianya. Setelah Usmani menaklukkan Lazistan pada 1547, orang Laz berangsur-angsur memeluk Islam Sunni selama satu setengah abad berikutnya, sementara komunitas Zan yang tetap berada di bawah pengaruh gerejawi Konstantinopel justru mengalami helenisasi, beralih ke bahasa Yunani Pontus dan, lama-kelamaan, ke identitas Yunani sepenuhnya. Budaya Laz yang tersisa terbentuk di sekitar irama pesisir timur Laut Hitam: penangkapan ikan dan pelayaran, budi daya kemiri hazel dan kemudian teh, serta tradisi musik yang bertumpu pada kemençe (rebab), guda (bagpipe), dan terutama Horon, tarian berbaris yang bersemangat dan diduga berasal dari ritual pra-Kristen. Abad ke-20 menghantam bahasa ini lebih keras lagi. Kebijakan nasionalisasi Turki menyingkirkan bahkan nama “Lazistan” sejak 1926 dan melarang sama sekali penggunaan bahasa Laz di ruang publik antara 1980 dan 1991. Bahasa ini tidak pernah benar-benar pulih dari keretakan itu: jumlah penuturnya anjlok dari lebih dari enam puluh ribu pada sensus 1935 menjadi hanya sekitar dua puluh ribu kini, sehingga UNESCO menggolongkannya “jelas terancam punah”, meskipun ada kebangkitan kecil sejak 1990-an, termasuk masuknya bahasa ini sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah pada 2013.
Secara struktur, bahasa Laz memperlihatkan ketimpangan khas rumpunnya antara sistem konsonan yang rumit dan inventaris lima vokal yang hemat (a, e, i, o, u), dipadukan dengan tata bahasa aglutinatif tempat nomina berinfleksi dalam sebanyak delapan kasus dan verba dapat membawa lebih dari lima puluh awalan berbeda hanya untuk menandai orientasi ruang. Kekayaan morfologi sebesar ini membuat satu verba dapat mengerjakan tugas deskriptif satu klausa utuh dalam bahasa Inggris. Aksaranya pun menandai nasibnya yang terbelah: sebagian besar penutur, yang tinggal di Turki, menuliskannya dengan abjad Latin yang diadaptasi dari bahasa Turki sejak 1984, sedangkan komunitas kecil yang tersisa di wilayah Adjara, Georgia, memakai aksara Mkhedruli Georgia. Jadi satu bahasa benar-benar ditulis dengan dua cara, tergantung di sisi perbatasan modern mana penuturnya kebetulan lahir. Keretakan itu berada di dalam keretakan yang lebih besar, karena kawasan Laut Hitam timur dan Kaukasus selatan adalah salah satu sudut Eurasia yang paling kacau secara kebahasaan: bahasa Kartvelia Georgia dan Mingrelia, bahasa Indo-Eropa Armenia dan Yunani Pontus, bahasa Turkik Turki, dan, sedikit lebih jauh di sepanjang pesisir, bahasa-bahasa Kaukasus Barat Laut yang sama sekali tidak berkerabat, semuanya berdesakan dalam jarak beberapa ratus kilometer, tanpa satu pun saling dapat dipahami dengan yang lain. Di tengah belantara itu, bahasa Laz benar-benar berdiri sendiri, kecuali bersama satu-satunya saudara yang tersisa, bahasa Mingrelia, dan itu pun hanya menghasilkan pemahaman yang sebagian dan tidak sempurna: serpihan terakhir yang tersisa dari rumpun bahasa yang dahulu dikenal Kolkhis sebagai satu suara.
