Radhin Kènè’ — dalam bahasa Madura.

Bahasa Madura, yang dituturkan oleh orang Madura, adalah salah satu bahasa daerah penting di Indonesia. Bahasa ini terutama dituturkan di Pulau Madura dan sebagian wilayah Jawa bagian timur, juga di pulau-pulau kecil di sekitarnya dan sebagian Kalimantan. Jumlah penuturnya diperkirakan sekitar 13,6 juta orang, menjadikannya salah satu bahasa besar di Indonesia.

Bahasa Madura termasuk cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Dengan demikian, ia berada dalam rumpun besar yang sama dengan bahasa Indonesia, Melayu, Jawa, dan Tagalog, meskipun memiliki ciri khasnya sendiri. Bahasa Madura memiliki beberapa dialek yang secara garis besar dapat dibagi menjadi empat: Madura Tengah, Madura Timur, Madura Barat, dan Bawean. Setiap dialek memiliki keunikan dalam pelafalan, kosakata, dan terkadang tata bahasa.

Bahasa Madura memiliki sistem bunyi yang kaya. Ciri yang paling khas adalah kontras tiga arah pada konsonan hambatnya, yaitu bersuara, tak bersuara tanpa aspirasi, dan tak bersuara beraspirasi, yang jarang dijumpai dalam bahasa-bahasa Austronesia. Fonologi bahasa ini dikenal rumit, terutama sistem konsonannya.

Seperti banyak bahasa Austronesia lainnya, bahasa Madura memakai struktur kalimat yang diawali predikat. Bahasa ini juga memakai sistem imbuhan yang rumit untuk menandai hubungan gramatikal dan diatesis verba, sedangkan waktu tidak ditandai secara gramatikal pada verba, melainkan dinyatakan melalui kata keterangan waktu dan konteks. Bahasa Madura dipengaruhi oleh bahasa tetangganya, Jawa dan Sunda, serta oleh Sanskerta dan Arab melalui hubungan sejarah. Pengaruh ini tampak pada kosakatanya, yang memuat cukup banyak kata serapan dari bahasa-bahasa tersebut. Dahulu bahasa Madura ditulis dengan aksara Carakan Madura, varian dari aksara Jawa. Namun kini bahasa Madura umumnya ditulis dengan aksara Latin.

Edisi Pangeran Kecil dalam bahasa Madura ini diluncurkan di Surabaya pada 7 Februari 2024.