
الأمير الصغير (Al Amirus Shaghir), dalam dialek Baghdad Irak bahasa Arab.
Dialek Baghdad bahasa Arab, yang kerap disebut ʿĀmmiyyat Baġdād atau sekadar Arab Baghdad, adalah ragam bergengsi bahasa Arab Irak dan salah satu dialek perkotaan paling berpengaruh secara kebahasaan dan budaya di dunia Arab. Berakar pada warisan multibahasa Mesopotamia yang kuno, dialek ini dibentuk oleh rangkaian panjang peradaban, yaitu Sumeria, Akkadia, Persia, Yunani, Arab, Usmani, dan Inggris, sehingga menghasilkan identitas kebahasaan yang berlapis dan unik. Arab Baghdad berdasarkan kontinum dialek Mesopotamia, tetapi ragam perkotaannya terutama dikenal karena iramanya yang halus, idiomnya yang ekspresif, dan kosakata yang diambil bukan hanya dari bahasa Arab Klasik tetapi juga dari Persia, Turki, Aram, Kurdi, dan bahkan Inggris, mencerminkan masa lalu dan masa kini Baghdad yang kosmopolit.
Secara historis, sebagai ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad adalah jantung peradaban Islam pada zaman keemasannya, tempat sains, filsafat, sastra, dan teologi berkembang. Warisan intelektual ini masih bergema dalam bahasanya, yang sejak lama diasosiasikan dengan kehalusan perkotaan dan kecanggihan budaya. Dialek ini mempertahankan banyak ciri tata bahasa dan leksikon Arab Klasik, tetapi fonologi dan sintaksisnya berevolusi menyesuaikan diri dengan penduduk kota yang beragam. Misalnya, qāf klasik kerap menjadi hentian glotis [ʔ] dalam tutur Baghdad, seperti dalam bahasa Arab Syam, walaupun register perdesaan atau kesukuan tertentu dapat mempertahankannya sebagai [g].
Secara budaya, Arab Baghdad telah menjadi suara musik, puisi, teater, dan sandiwara radio Irak, terutama lewat tradisi maqām dan sastra pascaperang yang memadukan kedalaman emosi dengan humor sinis. Dialek ini mencerminkan sejarah kota yang semarak namun kerap bergolak, memantulkan ketangguhan sekaligus kehilangan. Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan seperti shlonak? (“Apa kabar?”) dan yalla bina (“Ayo pergi!”) memperlihatkan kehangatan dan keterjangkauannya, sedangkan peribahasa seperti el-‘aql zīn el-bāshar (“Akal adalah perhiasan manusia”) mewujudkan nilai-nilai tradisional Irak.
Dalam kaitannya dengan dialek Arab lain, Arab Baghdad berada di antara ragam Teluk, Syam, dan Mesir, tetapi tetap mempertahankan watak Mesopotamia yang khas. Dialek ini dapat saling dipahami dengan sebagian besar dialek yang dituturkan di Irak, tetapi mungkin kurang terjangkau bagi penutur dari Maroko atau Aljazair, yang dialeknya telah menyimpang lebih jauh. Meski begitu, lewat migrasi, media, dan komunitas diaspora, Arab Baghdad telah menempuh jarak jauh melampaui tepian Sungai Tigris.
Kini, walaupun puluhan tahun dilanda konflik dan pengungsian, Arab Baghdad terus berevolusi, menyerap bahasa gaul modern, istilah teknologi, dan ungkapan dari kehidupan diaspora, terutama di kalangan orang Irak yang lebih muda. Dialek ini tetap menjadi lambang kebahasaan jiwa Baghdad, kota reruntuhan dan kelahiran kembali, tempat bahasa Arab bukan hanya dituturkan tetapi dirasakan, terbawa dalam suara para penyair, sopir taksi, nenek, dan pemusik jalanan.
