
Lé Pétit Prïnce — dalam dialek Lorraine.
Dialek Lorraine, anggota keluarga Langues d’oïl, adalah ragam Roman yang secara historis dituturkan di seluruh Lorraine, Prancis timur laut. Meski hari ini tertutup bayang-bayang Prancis baku, Lorraine dahulu berkembang dalam tutur sehari-hari komunitas pedesaan dan kelas pekerja, terutama di département Meurthe-et-Moselle, Meuse, Moselle, dan Vosges. Berakar pada Latin Vulgar, seperti bahasa Gallo-Roman lain, ia mengembangkan ciri khas lewat kontak berabad-abad dengan bahasa Germanik, terutama Frank, dan kemudian Jerman baku, mengingat sejarah rumit Lorraine di perbatasan Prancis-Jerman. Dengan demikian dialek ini ditaburi kata pinjaman Germanik, bunyi guttural, dan pergeseran fonetik yang tak terlihat dalam dialek yang lebih selatan seperti Norman atau Picard.
Secara budaya, Lorraine mencerminkan tradisi pertanian yang dalam dan identitas komunal wilayah itu. Ia bahasa festival desa, lagu rakyat, penuturan lisan, dan canda pasar. Peribahasa lokal, seperti « Li jour n’est point feni qui n’a beu vin » (“Hari belum berakhir jika seseorang belum minum anggur”), menangkap kecerdasan membumi dan ketangguhan penuturnya. Tradisi sastra Lorraine yang khas muncul, terutama pada abad ke-19, ketika kebanggaan regional mendorong penyair dan dramawan merayakan dialek ini dalam cetakan. Dialek wilayah itu dapat berbeda jelas dari satu lembah ke lembah berikutnya, menciptakan mosaik patois, sebagian condong ke Walloon, yang lain menyatu ke Franc-Comtois atau menyerap pengaruh Alsace.
Secara kebahasaan, Lorraine menempati posisi tengah antara dialek Oïl seperti Champenois dan Bourguignon, dan dialek yang lebih tergermanisasi di Alsace dan Moselle. Tata bahasanya relatif konservatif, mempertahankan bentuk verba dan deklinasi lebih tua yang telah hilang dari Prancis baku. Di beberapa desa, bentuk dialek hanya saling dapat dipahami oleh komunitas tetangga, melahirkan mikroidentitas kebahasaan yang kaya. Meski kebijakan bahasa Prancis pada abad ke-20, terutama lewat pendidikan wajib dan media massa, menyebabkan merosotnya Lorraine dalam pemakaian sehari-hari, kebangkitan budaya terbentuk dalam beberapa dekade terakhir lewat teater regional, festival, radio lokal, dan sastra dialek.
Hari ini, meski terancam punah, dialek Lorraine bertahan sebagai penanda kebanggaan lokal dan warisan kebahasaan, sering diajarkan tak resmi oleh para sesepuh dan dipelihara dalam ungkapan tradisional, humor, dan ingatan lisan. Kisahnya mencerminkan kisah banyak bahasa regional di Prancis: dipinggirkan atas nama persatuan nasional, namun disayangi sebagai penghubung hidup dengan tempat, leluhur, dan rasa memiliki. Dalam irama kasarnya dan pesona folkloriknya, Lorraine berbicara bukan hanya tentang sebuah wilayah tetapi tentang budaya tangguh yang bersarang di perbukitan, hutan, dan perbatasan Prancis timur.
