
Li P’tit Prince — dalam bahasa Walon.
Walon (Wallon) tergolong rumpun bahasa Oïl dalam Gallo-Roman, menjadikannya kerabat sejati bahasa Prancis sendiri dan bukan sekadar dialeknya, bersama saudara seperti Picard dan Norman, dan tetap menjadi bahasa asli Wallonia, separuh selatan Belgia yang berbahasa Prancis. Sebagian besar ahli bahasa bahkan menggolongkan Walon sebagai bahasa tersendiri, cukup berbeda dari Prancis baku dalam bunyi, tata bahasa, dan kosakata untuk berdiri sendiri, bahasa Roman yang tumbuh dalam kontak sehari-hari yang erat dengan tetangga Germaniknya di seberang perbatasan kebahasaan yang selalu membentang melintasi Belgia.
Nama itu sendiri menyimpan kisah yang sungguh tak terduga, sebab Walon dan Wallonia sama-sama turun dari akar Germanik kuno Walh, kata yang dahulu dipakai bangsa-bangsa berbahasa Germanik untuk tetangga mereka yang berbahasa Roman atau Keltik, akar yang sama yang memberi bahasa Inggris kata Welsh bagi penutur Keltik di Britania dan yang muncul lagi, secara mengejutkan, dalam Wallachia dan Vlach jauh di Balkan. Tiga bangsa yang dipisahkan sepanjang benua dengan demikian masih membawa gema satu label Germanik kuno. Kedudukan perbatasan antara dunia Roman dan Germanik itu juga membentuk bahasanya sendiri, sebab Walon menyerap lapisan khas kata pinjaman Frank dan kemudian Germanik yang sangat berbeda dari yang ada dalam Prancis baku, sementara keuskupan-pangeran Liège pada Abad Pertengahan turut menumbuhkan salah satu tradisi sastra tulis paling awal di antara semua bahasa Oïl selain Prancis.
Kehidupan budaya Walon mencapai puncak mekarnya pada masa kejayaan Wallonia di abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh sebagai jantung industri Belgia, ketika tambang batu bara dan pabrik baja dipenuhi pekerja berbahasa Walon yang membawa bahasa itu ke dalam tradisi teater rakyat, kabaret, dan lagu yang berkembang, théâtre wallon, yang hingga kini masih dipentaskan dengan kasih sayang nyata di kota dan desa. Berpuluh tahun francisation di sekolah dan administrasi sepanjang abad kedua puluh mendorong pemakaian sehari-hari bahasa ini ke kemerosotan tajam, namun Walon bertahan sebagai penanda kebanggaan identitas regional, bahasa Roman yang tumbuh dewasa bukan dalam keterasingan melainkan justru di titik temu orbit kebahasaan Prancis dan dunia Germanik di seberangnya, dan yang masih menyandang jejak keduanya dalam setiap kalimat.
