Jean-Marc Probst

Pak Probst tentu filantropis paling berdedikasi di dunia LPP kita. Namun perjumpaan pertama kami ditentukan oleh tarikan puitis serendipitas. Semuanya bermula pada 2014, bukan lewat janji temu resmi, melainkan lewat pesan singkat yang saya kirim ketika sedang melintasi Swiss. Pak Probst, meski memikul tanggung jawab besar sebagai kepala Kamar Dagang Swiss, mengusulkan pertemuan spontan di sebuah kafe sederhana dekat stasiun kereta Zürich. Dalam pertemuan singkat itu, di tengah dengung para komuter, kami menemukan sandi yang sama: pengabdian seumur hidup pada kebenaran tak terlihat dalam karya Saint-Exupéry.

Pada 2019, ketika saya berkunjung ke CERN di Genève, Jean-Marc dengan ramah mengundang saya menemuinya di Lausanne. Keramahan yang saya terima di sana sama tulusnya dengan menawannya; saya ingat Simonette Probst menjemput saya di stasiun dengan berjalan kaki, mengenakan gaun bermotif semangka, percikan warna yang menyenangkan yang menentukan suasana hari itu. Kami menyusuri jalan-jalan bersejarah sebelum beristirahat di rumah mereka, tempat Jean-Marc, di sela makan siang yang dimasak sendiri oleh Simonette, memperlihatkan harta karun koleksinya yang luas. Itu saat perenungan yang tenang di antara kebun anggur Montreux dan Vevey, menyaksikan karya seumur hidup yang berada di ambang warisannya.

Lingkaran itu genap pada 2024 ketika keluarga Probst bepergian ke Indonesia untuk peluncuran edisi Madura, Radhin Kènè’. Kunjungan ini membawa bobot yang tak terduga dan mengharukan; dalam perjalanan mereka, ayah Simonette, mantan prajurit kelahiran Hindia Belanda, wafat. Dalam pencarian tengah malam demi ketenangan hati, kami mencari tempat kelahirannya di dekat Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Saya berhasil mendapatkan buket bunga yang indah untuk Simonette, sebuah isyarat yang bermakna mendalam, sebab setiap pencinta LPP tahu bahwa bunga tidak pernah sekadar bunga. Setelah bernegosiasi dengan hati-hati dengan penjaga malam Monas, kami diantar ke kaki monumen, tempat kami meletakkan bunga itu sebagai penghormatan hening bagi sebuah kehidupan yang telah kembali ke titik awalnya.

Hari-hari berikutnya di Surabaya, diwarnai jalan kaki berdebu menembus kota yang terik, makin mengukuhkan ikatan kami. Ketika Jean-Marc berkeras mengganti biaya saya, saya menolak; bagi saya ini pengejaran atas kegemaran, bukan kewajiban profesional. Kegigihannya, yang akhirnya memaksakan 200 euro simbolis ke tangan saya dengan ancaman bercanda bahwa saya tidak akan diizinkan pergi jika menolak, adalah bukti rasa hormat timbal balik yang mengatur hubungan kami.

Meski saya merasa terhormat menerima undangan ke pembukaan megah museum baru Jean-Marc di Solothurn pada November 2025, keadaan mencegah saya hadir. Namun cakrawala tetap terbuka; saya berniat berziarah ke tempat suci aksara itu dalam waktu dekat. Kami bukan sekadar kolektor buku; kami penjaga hubungan yang telah kami jinakkan di berbagai benua.

Situsnya: https://www.petit-prince-collection.com

Kolektor Lain

Penjual Buku