
Mengalihaksarakan The Little Prince ke dalam Braille penting untuk memajukan literasi dan akses terhadap budaya bagi komunitas tunanetra dan penyandang gangguan penglihatan. Akses terhadap sastra dalam Braille memungkinkan para tunanetra menikmati karya sastra klasik, bahan pendidikan, dan bacaan rekreasi yang sama seperti mereka yang dapat melihat. Hal ini memajukan kesetaraan dan inklusi dalam pendidikan dan masyarakat.

Sejarah Braille sendiri bermula pada abad ke-19, ketika Louis Braille, seorang Prancis tunanetra, mengembangkan sistem Braille. Sistem titik timbulnya merevolusi cara membaca dan menulis dengan perabaan bagi para tunanetra. Penyesuaian karya sastra ke dalam Braille dimulai tak lama setelah sistem itu ditemukan. Mulanya buku Braille dibuat dengan tangan, proses yang memakan waktu dan tenaga. Namun kemajuan teknologi, seperti mesin tik Braille dan embosser, membuat produksi buku Braille lebih efisien.
